Januari 2018 - Fantastical HQ

Sabtu, 13 Januari 2018

Alur Cerita Lengkap God of War : Ascension (The Path of Freedom)
16:361 Comments
Baca sebelumnya... God of War : Ascension (Seek the Oracle at Delphi)

Cerita berlanjut setelah Kratos berhasil mengalahkan Megaera di Prison of Damned, dan berhasil merebut kembali Amulet of Uroborus. Sekarang, tujuannya adalah mencari 2 Fury lainnya. Selain untuk merebut kembali barang-barang pribadi Kratos, ini juga bagian dari usahanya menuju jalan kebebasan seperti yang dipesankan Aletheia the Oracle of Delphi. Menurut perkiraan Kratos, mereka bersembunyi di area tangan Aegaeon yang menempel di tebing, area tersebut bernama The Fury Citadel.



Ketika hendak berangkat, tiba-tiba Cerberus keluar melewati portal Underworld disusul rombongan sisa-sisa Megaera's Minnion mengepung Kratos dan memaksanya bertarung. Sebagian besar musuh yang muncul adalah sisa-sisa dari Parasyte milik Megaera yang disebar sembarangan untuk menginfeksi para tahanan ketika pertarungan sebelumnya. Selama melanjutkan perjalanannya, Kratos juga dihadang oleh Empusa dan Cyclops Berserker, makhluk-makhluk ini dibiarkan berkeliaran diluar penjara untuk mencegah kaburnya tahanan, salah satunya Kratos sendiri meski ini bukanlah apa-apa bagi Kratos. Kemudian ia menyusuri seluruh penjara raksasa baik bagian luar maupun dalam, lalu ketika ia memasuki ruangan tiba-tiba berubah menjadi ramai.



The King of Sparta

Kratos yang memasukinya disambut kemeriahan oleh orang-orang yang tampak menggunakan kostum Spartan dan diberi penghargaan oleh Raja Sparta yang kala itu berkuasa. Kratos sadar bahwa ini adalah ilusi yang dihasilkan oleh Tisiphone persis seperti saat bertarung melawan Megaera. Dengan tendangan ala Spartan, Tisiphone terhempas jatuh dan ilusi berangsur-angsur hilang, kemampuan Levitasi-nya mencegahnya jatuh dari atas tebing. Karena sadar dirinya gagal mengelabuhi Kratos untuk kedua kalinya, maka dia terbang menjauh untuk membuat rencana berikutnya.

Selain bertemu dengan monster-monster yang menghadang, dia juga menemukan beberapa catatan-catatan tentang The Furies lainnya yang ditulis oleh seseorang yang dijuluki sebagai The Scribe of Hecatonchires, tak hanya itu bahkan Kratos bertemu langsung dengannya saat tak sengaja memasuki ruangannya.



The Scribe of Hecatonchires

Ketika memasuki ruangan tersebut, orang itu sadar akan kedatangannya tapi dia tetap sibuk dengan tulisan-tulisan yang dia buat, lalu Kratos menanyainya tentang Oath Keeper. Orang yang mengaku dirinya adalah manusia pertama yang dijebloskan di penjara ini menjawab fakta tentang Orkos yang bukan lagi menjadi orang pilihan Ares. Orkos juga mendatanginya setelah berhasil keluar dari penjara, sehingga dia mendapatkan catatan yang lebih lengkap. Kemudian ia menjelaskan seperti ilmuan gila tentang fakta lainnya seperti yang dikatakan Aletheia. Kratos menyelanya bahwa ditelantarkan orang tuanya bukanlah berarti sebab dia mengkhianati keluarganya, lalu penulis gila itu memberi fakta lain bahwa ini karena keberadaan Kratos sendiri lagi pula Sang Spartan akhirnya menerima bantuan Orkos. Meski tidak terima namun ini meyakinkan bahwa Orkos tetaplah orang dibalik kebebasan Kratos.

Selanjutnya Kratos melanjutkan perjalanannya melewati area yang sama saat mengejar Megaera, lalu bertemu dengan beberapa monster penjaga sel tahanan lainnya yaitu Siren Sybil dan Gorgon Cobra. Rintangan dapat dilewati dengan mudah, namun kali ini dia dihadang secara langsung oleh Tisiphone meski ini bukanlah hal yang biasanya. Tisiphone langsung menyerang dengan memanggil burung peliharaannya bernama Daimon. Kratos menahannya hanya dengan menggunakan tangan kosong, lalu mencoba merobek perut burung tersebut guna mengambil barang yang sebelumnya ditelannya. Meski perutnya dirobek, burung itu masih tetap hidup, perutnya kembali normal karena dia salah satu ilusi padat yang dihasilkan Tisiphone dan hanya bisa dibunuh menggunakan Eyes of the Truth. Tisiphone yang merasa tidak punya cara lain, menarik dirinya mundur dan masuk ke dalam markasnya. Tisiphone biasanya memakai ilusi untuk menjebak musuh, namun kali ini bukti bahwa ilusi bukanlah hal yang berguna lagi. Sementara Kratos sudah yakin akan kemenangannya, dia memegang erat benda yang dia dapatkan dan mengingat petualangannya di Delos.




2 MINGGU YANG LALU

Perjalanan berlanjut sejak pelayaranya dari Pelabuhan Kirra (The Harbour of Kirra) menuju Delos. Bersama dengan para nelayan, Kratos menumpang perahu mereka dan berlabuh di tempat. Disana terdapat patung Apollo berukuran raksasa, namun nampak hancur lebur tidak terawat. Para nelayan mengatakan bahwa patung tersebut dipugar oleh Archimedes dan sekarang justru menjadi tempat terkutuk.

Pencarian Eyes of the Truth di Pulau Delos

Setelah Kratos turun, para nelayan buru-buru pergi dari tempat sana karena takut mereka juga akan kena kutukan. Benar saja, baru beberapa langkah Kratos langsung menemukan seseorang yang sekarat terkena tombak diikuti muncul rombongan Satyr yang dipimpin oleh jendral mereka yang berukuran paling besar. Mereka hendak memburu orang-orang yang kemungkinan para pekerja pembuat patung yang tersisa. Nyawanya banyak yang sudah tidak tertolong dan kini Kratos harus membereskan para pengganggu ini. Disisi lain para nelayan yang sudah berlayar cukup jauh dari pulau tiba-tiba diserang oleh monster laut bertentakel raksasa. Mungkin inilah yang disebut kutukan, banyak sekali monster-monster yang mengambil alih tempat ini selain monster laut raksasa dan para Satyr yang berburu manusia. Disini ada juga Elephantaur, Empusa, dan Manticore yang membuat sarang beserta telur-telurnya yang sudah menetas, serta Siren Sybil dan Elemental Talos jenis baru yang diberkati listrik Zeus, entah kenapa ada jenis makhluk dari kekuatan dewa yang diletakkan disini. Banyak pula serangga-serangga Parasyte milik Megaera yang merupakan pertanda bahwa The Furies ada disekitar sini.

Feet of the Statue of Apollo

Head of the Statue of Apollo
The Latern of Delos


Semakin jauh Kratos berjalan dan memanjat patung lalu menuju bagian Lentera (The Lantern of Delos), dia juga dihadang oleh 2 Centaur General dan tentara wanita dari Amazons yang memanggil para Harpy lalu menyerang Kratos karena memasuki area mereka.


Ketika sampai di area yang paling dekat dengan tujuannya tepatnya di area The Gauntlet of Apollo, Kratos memasuki ilusi lagi, jelas ini adalah ilusi dari Tisiphone. Kratos sudah menyadari hal ini, meski begitu untuk lepas dari ilusinya bukanlah hal yang mudah, dia terpaksa harus berhadapan dengan ilusi pasukan tentara Spartan. Disamping para Spartan, Megaera juga ikut bertarung secara langsung dengan Kratos. Secara fisik dialah yang terkuat diantara para Fury, dia mampu bertarung duel melawan Kratos dalam waktu cukup lama, dan satu-satunya Fury yang memilih bertarung secara langsung dengan lebih brutal daripada menggunakan kekuatan ilusi untuk mengelabuhi musuh secara seksual, inilah kenapa dia dijuluki sebagai The Fury of Flesh. Namun kelemahan dari Megaera sendiri adalah sifatnya yang sombong, rakus, ceroboh, dan temperamen/mudah marah.

Megaera the Fury of Flesh




Walaupun diserang oleh 2 Fury sekaligus, Kratos ternyata masih bisa memenangkan pertarungan. Alasan kenapa strategi penangkapan mereka gagal dan berakhir dengan terpotongnya tangan Megaera, dikarenakan metode penangkapan ini diterapkan sendiri oleh Megaera. Kerakusan dan kesombonngannya untuk mengambil alih keseluruhan pertarungan membuatnya merasakan akibatnya, bahkan berakhir dengan kematian Tisiphone meski ternyata dia hanyalah ilusi. Semuanya menjadi terkendali setelah Alecto turun tangan, padahal jika dari awal Alecto-lah yang menangani maka masalahnya tidak akan parah. Kratos tertunduk pada semburan cairan tinta lengket milik Alecto, saking lengketnya bahkan Kratos sendiri tidak bisa memberontak sama sekali, mungkin inilah akhir kekalahannya. Orkos datang tiba-tiba dari belakang Kratos, lalu mengatakan bahwa jika dari awal dia membantunya maka tidak akan berakhir seperti ini. Alecto yang mendengarnya terkejut tidak percaya kalau anaknya sendiri akan bersekutu dengan Spartan, lalu sebelum pergi menggunakan teleportasi Orkos mendeklarasikan kemenangannya kepada para Fury bahwa mulai sekarang merekalah yang akan gagal. Tanpa Orkos, Kratos pasti sudah dijebloskan ke penjara namun dia masih beruntung, ditambah lagi Orkos memberikan batu miliknya bernama Oath Stone of Orkos yang berfungsi untuk menduplikat diri pengguna dengan menciptakan Shadow Clone dan yang paling penting adalah untuk meloloskan diri dari cairan tinta lengket milik Alecto yang suatu saat nanti akan melawannya.

Selanjutnya Kratos mencari jalan lain menuju area Patung Lentera. Sayangnya patung yang menyimpan Eyes of the Truth telah ditenggelamkan oleh The Furies, maka dari itu pilihan terakhirnya adalah membangun kembali patung raksasa tersebut menjadi semula dengan menggunakan Amulet of Uroborus. Tapi karena ukurannya yang sangat raksasa tersebut maka Kratos juga harus naik sampai puncak kepala patung agar dapat mengatur kekuatan Amulet-nya dengan sempurna. Dihadang oleh banyak monster disepanjang jalan adalah hal yang biasa, namun kali ini dia menemukan mayat Archimedes yang tergeletak mengenaskan di meja kerjanya beserta dokumen-dokumen yang berserakan. Hancurnya patung tersebut ternyata juga diikuti sendiri oleh si pembuatnya. Blue print dan desain konsep lainnya tentang patung ini juga ditempel didinding sehingga kita bisa tahu bentuk akhir dari patung raksasa ini.

Archimedes Life Version

Archimedes Dead Version




Sesampainya dipuncak patung, Kratos memulai perbaikannya secara magis. Pembangunan patung yang super megah ini akhirnya terselesaikan secara sempurna hanya dengan hitungan menit, dengan begini pemberian penghargaan Archimedes kepada dewa Apollo akhirnya terwujud dan secara tak langsung Archimedes telah menyelesaikan janjinya seperti yang tertulis dalam buku anggaran miliknya. Selain membangun patung tersebut secara semula, Kratos juga mengaktifkan energi sinar yang akan memancar dari rongga mata patung menuju area lentera, ini bertujuan untuk membuka segel yang mengunci Eyes of the Truth. Setelah semuanya terbereskan dengan baik, maka langkah selanjutnya adalah memikirkan cara menuju ke area lentera itu sendiri. Dari jauh terlihat Manticore dewasa sedang terbang melintas, Kratos yang masih berada dipuncak melihat situasi ini dari ketinggian lalu bersiap-siap untuk memboncengnya. Manticore yang entah kenapa tidak merasakan insting hewaninya tiba-tiba disergap oleh Kratos tepat dari arah punggungnya. Meski ada pemberontakan, namun cengkraman Kratos dapat mengendalikan arah terbangnya menuju The Latern of Delos. Setelah mendarat, tanpa basa-basi apapun Kratos membunuhnya dan inilah hukum alam yang ada di dunia mitologi Yunani, hanya yang kuatlah yang bisa bertahan hidup.


Kratos memasuki area yang disana terdapat Eyes of the Truth yang dalam keadaan tersegel. Orkos datang menghampirinya, lalu menjelaskan latar belakang dari mata kebenaran milik kekasihnya, Aletheia yang diambil secara paksa oleh ibunya, Alecto. Pada awalnya, Orkos tidak mempercayai perkataan Aletheia bahwa kedua orangtuanya akan meruntuhkan Olympus tapi dengan kekuatan mata Oracle terbuktilah kebenaran tersebut. Dari sinilah Aletheia dan Orkos berencana memberitahu Zeus tentang bencana yang akan datang ini, tapi sayangnya Ares telah mengetahuinya lalu mengirim The Furies pada mereka. Pada hari itu juga Orkos dianggap sebagai pembangkang lalu dijebloskan ke Prison of the Damned meski kemudian dia lolos dengan mudah menggunakan kekuatan Oath Stone, sementara mata Aletheia yang menjadi ancaman dicongkel keluar dengan kejam terlebih lagi dia ditawan di kuilnya sendiri dibawah pengawasan Castor the Prophet oleh perintah para Fury. Dengan begini setelah ancaman mata kebenaran tersebut tersegel maka rencana jahat mereka tak akan terungkap. Setelah Orkos menceritakan semuanya, dia meyakinkan bahwa rencana jahat mereka tidak akan terselesaikan tanpa keikutsertaan Kratos dan mereka takkan berhenti sampai Sang Pejuang kembali pada tuannya. Untuk kali inilah Kratos setuju dengan apa yang dikatakannya.

Setelah memberikan pesannya kepada Kratos pergilah Orkos dengan penuh harap akan kemenangan mereka. Disisi lain, Kratos mencari cara untuk membuka segel yaitu dengan membuka jalan masuknya sinar yang dipancarkan mata Patung Apollo, namun itu masih terkunci dengan rapat sehingga untuk membukanya harus dengan suatu cara lain. Pada ujung ruangan terdapat portal, namun sekali lagi itu juga masih terhalang oleh Fury Barrier. Sebuah sihir ilusi abadi yang dihasilkan oleh para Fury dan hanya bisa dipatahkan dengan satu-satunya cara yaitu dengan menggunakan Eyes of the Truth itu sendiri dan Kratos jelas melakukannya dengan mematulkan kekuatan mata tersebut menggunakan kaca pembesar raksasa yang didesain memang untuk membuka portal tersebut. Portal tersebut menuju ke dimensi lain yang merupakan sisi yang sama dengan area The Latern of Delos, yaitu bernama Trial of Archimedes. Tidak ada yang tahu pasti dimana lokasi tersebut, akan tetapi yang sangat jelas ini adalah tempat dimana patung dewa Nyx (Statue of Nyx) berada yang dibangun dengan kalkulasi yang sama dengan patung dewa Apollo (Statue of Apollo). Ini dapat diketahui setelah Kratos membuka penghalang energi sinar yang keluar dari mata patung raksasa dewa Nyx. Di dalam sini juga terdapat Eyes of the Truth yang sama-sama disegel, kemudian terbuka setelah sinar tersebut mengenai batu permata yang akan me-nonaktifkan segel dan membuka sangkar besinya. Kratos menghampirinya dan disinilah bagian yang tersulit dari keseluruhan permainan. Dari dokumen milik Archimedes yang tergeletak disana, tertulis bahwa perancang tidak akan segan-segan membiarkan hidup seseorang yang berhasil membuka segelnya, dalam hal ini Archimedes benar-benar dipaksa oleh The Furies untuk membuat perlindungan berlapis dan apabila seseorang berhasil melepaskan semuanya maka seseorang itu akan dipaksa untuk bertarung melawan banyak monster-monster kuat. Disinilah pertarungan mematikan terjadi, entah ini hanya sebuah ilusi atau nyata namun yang jelas Eyes of the Truth sama sekali tidak bekerja pada mereka dan yang paling penting untuk peristiwa ini adalah bunuh mereka semua atau terbunuh oleh mereka. Pertarungan yang terdiri dari 3 gelombang ini sangatlah merepotkan tapi juga harus dilakukan untuk menyelesaikan permainan. Apabila Kratos berhasil melakukan rintangan ini maka permainan berlanjut dan Eyes of the Truth menjadi miliknya seorang. Namun yang dia dapatkan bukanlah yang asli, ini hanyalah jebakan yang gunakan para Fury untuk mematikan si pencuri. Inilah yang disebut perlindungan berlapis, tidak hanya segel tapi juga rintangan dan jebakan.


Ketika seorang pencuri itu berhasil mematahkan semua hingga membuka segel terakhir, yaitu membuka gerbang raksasa yang menghalangi jalan pancaran sinar dari mata patung Apollo, maka langkah terakhirnya adalah menunggu segel itu terbuka lalu mengambil mata kebenaran itu lebih dulu, dan inilah strategi yang dilakukan The Furies untuk menangkap Kratos. Ketika dia hendak mengambil hadiah kemenangannya, dia dihadang oleh ketiga Fury dengan Orkos sebagai tawanan. Akhirnya kita bisa tahu bahwa selama Kratos membuka segel-segel yang ada dengan leluasa, The Furies bukannya menghalangi Kratos namun mengejar Orkos terlebih dahulu, inilah yang disebut Tisiphone sebagai rencana istimewa hanya untuk Orkos. Ide brilliant para Fury membuat Kratos sepenuhnya tidak bisa berkutik dan mengakui kekalahan. Teknik penangkapan yang sama ini ternyata masih bekerja terhadap Kratos karena dia lengah terhadap Oath Stone-nya yang berhasil terebut oleh Daimon sementara Megaera tidak dikuasai oleh amarah balas dendamnya sehingga dia juga tidak berbuat masalah lagi. Tanpa bantuan Orkos maupun Oath Stone miliknya, Kratos hanyalah seperti lalat yang masuk dalam perangkap laba-laba. Inilah pengalaman terburuk 2 minggu yang lalu bagi Kratos, jiwanya hampir hancur gara-gara siksaan yang kejam dari para Fury di ujung kepala Hecatonchires.


Dengan mengingat itu semua, Kratos yakin dengan keputusannya kemudian melanjutkan pengejarannya sampai pada Alecto's Chamber. Ketika memasuki ruangan tersebut, disini Kratos merasakan sesuatu yang damai sekaligus menyedihkan. Meski ini hanya ilusi, namun ini bernar-benar dirancang senyata mungkin, bahkan kalung dan cincin berharganya tidak mampu mengatasinya. Kratos akhirnya larut dalam ilusi yang indah ini, disana dia menemukan anaknya bernama Calliope sedang tidur terlelap di ranjangnya, dengan jiwa keayahannya dia membelai lembut dan mencium anak kesayangannya. Ini adalah peristiwa yang ingin dirasakannya, dia merasa sudah pergi cukup lama dari mereka, kemudian istrinya bernama Lysandra mendatanginya dengan penuh perasaan.

Calliope, anak pertama Kratos

Lysandra, istri pertama Kratos

Dia sebenarnya adalah Alecto yang menyamar menggunakan ilusi ditambah dengan daya seksual wanita untuk menarik seorang pria seperti Kratos sebagai istri dalam ilusi. Kratos akhirnya menyadari setelah melihat cincin palsu yang dikenakan Lysandra palsu tersebut, hal ini membuat Alecto menyerah untuk bermain-main dengan Kratos. Kemampuannya dalam mengendalikan jiwa orang lain membuatnya sangat efektif dalam menggunakan ilusinya, ini alasan yang menjelaskan gelarnya sebagai Fury of the Soul. Dengan negosiasi yang terakhirnya, Alecto menawarkan ilusi menyenangkan tersebut sebagai gantinya dia mau melayani Ares seumur hidupnya. Tentu saja Kratos menolaknya dengan lantang, hal ini membuat Alecto marah dan berniat membunuhnya. Cara yang sama ternyata tidak bekerja untuk ketiga kalinya, kali ini Kratos benar-benar memegang erat Oath Stone miliknya dan berhasil merebut Eyes of the Truth. Alecto mundur menuju arena pertarungan diikuti Tisiphone mendekati saudaranya, meski dia masih berusaha membuat Fury Barrier tapi itu sudah tidak berguna sehingga pilihan terakhir adalah bertarung secara langsung.

Selain sebagai Fury of the Soul, Alecto memperkenalkan gelar dirinya sebagai The Queen of Fury, satu-satunya yang dihitung secara keseluruhan dia menjadi yang terkuat diantara The Furies. Dia dapat mengubah dirinya menjadi monster laut raksasa yang memiliki 6 tentakel bernama Carybdis. Seiring dengan perubahannya, Tisiphone menciptakan ilusi kekalnya dengan mengubah tempat Alecto's Chambers menjadi lautan berbadai. Dia memiliki gelar sebagai Fury of Mind, Tisiphone menjadi yang terkuat dalam hal kekuatan penciptaan ilusi. Ini dapat diketahui selain dapat mengubah arena pertarungan, hanya dialah yang dapat menciptakan ilusi-ilusi padat seperti Fury Barrier yang terdapat pada portal patung Apollo maupun Nyx, ilusi hewan peliharaannya (Daimon), dan Fury Barrier yang diciptakan tepat sebelum pertarungan ini. Setelah Alecto sepenuhnya menjadi monster, dia langsung menjeburkan diri di laut lalu menciptakan pusaran air raksasa, sementara Kratos bertarung melawan ilusi pasukan Spartan dan Tisiphone bersama Daimon diatas kapal yang hampir karam.

Tisiphone the Fury of Mind

Alecto the Fury of Mind and the Queen of Fury

Charybdis the Monster Mode of Alecto

Semakin pertarungan berlarut, Tisiphone semakin terdesak dan disinilah Alecto ikut bertarung. Pertarungan bergantian antara Alecto dan Tisiphone seolah tidak ada habisnya. Hingga pada akhirnya, Alecto mulai kelelahan dan luka pada dahinya terlihat dengan jelas, dari sinilah Kratos memulai serangan terakhirnya yang berpusat pada lokasi luka menganga tersebut kemudian berakhirlah masa hidupnya. Alecto berubah menjadi wujud manusia lagi dan tampaknya sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi, sementara Kratos mendekatinya untuk mengakhiri hidupnya. Tisiphone yang tak jauh dari sana langsung menghalangi Kratos dan menyerangnya menggunakan Daimon. Kratos yang sudah memiliki senjata yang ampuh untuk melawannya, maka ia gunakanlah untuk membasmi ilusi kekal tersebut dengan membunuh Daimon. Pikiran Tisiphone menjadi kacau setelah Daimon lenyap, kemungkinan hewan peliharaannya itu adalah sumber asal dari kekuatannya karena terlihat bahwa kepala Tisiphone merasa kesakitan saat Daimon diserang oleh Kratos menggunakan kekuatan Eyes of the Truth. Sebelum membereskan Alecto, Kratos beralih untuk membunuh Tisiphone terlebih dahulu namun dengan kekuatan liciknya, Tisiphone mengubah dirinya menjadi Lysandra. Wajahnya benar-benar membuat Kratos tidak tega membunuhnya, namun Kratos memberanikan diri untuk mematahkan lehernya. Kematian Tisiphone diikuti kematian Alecto mengakhiri ikatan sumpahnya dengan Ares, dan Kratos akhirnya menemukan jalan kebebasannya.


Untuk menjalani masa kebebasannya, Kratos pulang kerumahnya yang sebenarnya yaitu di Sparta. Dengan ditemani oleh Orkos yang sekarang menjadi satu-satunya keluarga yang tersisa. Orkos hampir tak percaya pada Kratos bahwa jalan sulit yang dia tempuh justru menjadi pilihannya, lalu Kratos menjawabnya bahwa lebih baik hidup dalam kenyataan dari pada dalam ilusi semata. Perkataan selanjutnya inilah yang kemudian disayangkan bagi Kratos, karena ternyata dewa Ares masih memegang ikatannya. Sebelum kematian para Fury, ternyata Orkos kembali dijadikan pemegang sumpah (Oath Keeper) dan menancapkan Oath Stone sebagai bukti. Dari situasi sekarang, Kratos memang terbebas dari kejaran para Fury, namun ikatannya dengan Ares tidak akan terputus selama masih ada Fury yang terakhir yaitu Orkos, maka dari itu Orkos harus terbunuh ditangan Kratos. Pada awalnya, Kratos sudah tidak ingin membunuh siapapun apalagi kepada orang yang tidak bersalah, akan tetapi karena sudah tidak ada cara lain lagi sementara Orkos yang tidak ingin hidup menderita lebih lama sebagai Oath Keeper maka Sang Spartan mengakhiri hidupnya dengan kematian yang terhormat. Setelah ikatan sumpah terputus, ingatan menyakitkan Kratos teringat kembali, kebenaran akan pembunuhan-pembunuhan penuh ambisi yang dia lakukan terutama terhadap istri dan anaknya menjadi mimpi buruk yang akan menghantui hari-harinya.

Sebagai langkah awal dalam memulai hidup baru, malam itu juga Kratos membakar satu-satunya rumah miliknya beserta jasad Orkos didalamnya lalu meninggalkannya pergi untuk mengembalikan sesuatu yang telah dia lakukan. Di hari-hari berikutnya, Kratos akan menghadapi kehidupan yang nyata dengan memikul dosa-dosa yang telah dia perbuat dan untuk membersihkan dosa tersebut maka dia harus bekerja untuk para Dewa Olympus selama 10 tahun kedepan.

Inilah akhir cerita dari God of War : Ascension

Reading Time:

Selasa, 09 Januari 2018

Alur Cerita Lengkap God of War : Ascension (Seek the Oracle)
00:581 Comments

Setelah pertarungan sengit melawan Megaera yang menggunakan tubuh Hecatonchires sebagai senjata bertarung, akhirnya Kratos berhasil mengalahkannya disusul dengan kematian Aegaeon the Hecatonchires itu sendiri dikarenakan banyaknya Parasyte yang tumbuh dan mengambil alih tubuhnya terutama di area vital yaitu kepala. Dengan kematian ini, Aegaeon akhirnya bisa istirahat dengan tenang dan terlepas dari hukuman tanpa akhir tersebut.

https://fantasticalhq.blogspot.co.id/2018/01/alur-cerita-lengkap-god-of-war-ascension-seek-the-oracle.html


Untuk kali ini, tujuan pertama Kratos dalam usaha pelarian berakhir dan mendapatkan kembali Amulet of Uroborus yang sebelumnya diambil Megaera sejak penyiksaan pertamanya. Fokusnya terhadap tujuan kedepan membuat Kratos mengingngat kembali beberapa minggu sebelum ditangkap, tepatnya ketika dia berniat untuk melepaskan ikatan sumpahnya terhadap Ares Sang Dewa Perang.


3 minggu sebelumnya, Kratos yang terlihat berada di kediamannya sendiri sedang meratapi insiden yang terjadi ketika perang terakhirnya melawan pasukan barbarian, yaitu kematian istrinya, Lysandra dan anaknya, Calliope. Kegalauan Kratos membuat semua ilusi menjadi tampak nyata, itulah kenapa ketika kedua benda yang hendak diambilnya tersebut lenyap. Tiba-tiba muncullah sosok dibelakang Kratos yang membuatnya naik darah dan menyerang tanpa perasaan, namun kemampuan teleportasi sosok tersebut membuatnya tetap hidup. Seseorang itu adalah Orkos the Oath Keeper, dia adalah manusia setengah dewa yang sama seperti Kratos hanya saja Orkos juga setengah Fury, karena dia anak dari dewa Ares dan Alecto (Queen of the Furies) sehingga bisa dikatakan bahwa dia juga bagian dari The Furies yang bertugas sebagai penjaga sumpah/the Oath Keeper.

Orkos the Oath Keeper

Tugas seorang Orkos adalah menjaga dan mengawasi seorang pembuat sumpah untuk tetap memegang apa yang disumpahkan. Seperti halnya terhadap Kratos, keberadaannya selalu membuat Kratos terganggu hanya saja membunuhnya adalah hal yang merepotkan. Kratos Sang Spartan berusaha menenangkan diri dan menanyakan urusan Orkos, meski Kratos sudah tahu apa yang akan dia katakannya pasti tidak akan memberi jalan lain. Seketika itu Kratos melihat Lysandra yang masih hidup berjalan dibelakang Orkos lalu keluar rumah. Kratos yang tidak peduli dengan apa yang dikatakan Orkos, awalnya dia ingin mengikuti istrinya keluar hanya saja Orkos menghentikan tingkahnnya. Orkos ingin membantunya memberi jalan keluar, hal ini tidak seperti biasanya seorang Penjaga Sumpah. Dia menyadarkan Kratos agar lepas dari ilusinya dengan memberikan barang berharganya, yaitu kalung dan cincin milik Lysandra yang sebenarnya/bukan ilusi. Seketika itu ilusi kembali menjadi realita dan baru tahulah dimana dia sekarang, disini bukanlah tempat tinggal Kratos di Sparta melainkan Desa Kirra/The Village of Kirra. Orkos menjelaskan bahwa kedua benda berharga tersebut akan memberikan jalan menuju kebebasan, tidak hanya bebas dari kejaran The Furies namun juga bebas dari ikatan sumpah dengan Ares itu sendiri. Lagi-lagi mendengar penjelasan tersebut dari seorang Penjaga Sumpah adalah hal yang membuat turun derajatnya Kratos, itulah kenapa dirinya bukanlah hal yang perlu dicemaskan dan tidak butuh bantuan Orkos. Belum lama dia berkata dengan sombong, ilusi tentang Lysandra mulai nampak membuat Kratos menjadi sedikit panik terlebih lagi The Furies mulai mendekati keberadaan mereka berdua. Orkos memberi peringatan terakhir supaya sadar dengan kondisi mereka, temuilah Oracle di Delphi untuk mencari kebenaran yang sedang menanti, itulah yang dikatakan Orkos sembari pergi memancing The Furies menjauhi lokasi Kratos.

Dari sinilah Kratos memulai pencarian menuju Delphi, Desa Kirra adalah tempat yang sama dengan tempat tinggal prajurit tanpa nama dari Rise of Warrior yang mana dia memiliki latar belakang yang sama dengan Kratos sebagai pelanggar sumpah terhadap dewa. Disini Kratos berjalan menyusuri area yang porak-poranda, disini ia juga menemukan beberapa pesan tertulis dari penduduk desa yang berisikan teka-teki tentang masa lalu desa ini yang merujuk pada peristiwa di Rise of Warrior. Penduduk desa ini sepenuhnya lenyap dan tergantikan dengan beberapa Parasyte yang disebarkan oleh Megaera, serta rombongan Feral Hounds dan Satyr, dan beberapa Elephantaur.

Sesampai di ujung desa, Kratos harus menaiki sebuah kereta berbentuk ular Python untuk melanjutkan perjalanannya dengan cepat menuju Tower of Delphi. Berdasarkan sejarah mitologi Yunani, ular Python adalah simbol dari pegunungan Delphi itu sendiri. Selain terkenal akan rumah dari Sang Peramal (Oracle), Delphi juga terkenal dengan bersemayamnya ular berbentuk seperti naga yang sangat besar di pegunungan tersebut melindungi Pusar Bumi (Navel of the Earth) atas perintah dewa Apollo yang berhasil menjinakkan monster tersebut, sehingga lokasi ini juga menjadi tempat untuk peribadatan terhadap dewa Apollo. Selama perjalanan, Kratos menemui sarang-sarang Manticore yang beberapa telah menetaskan telurnya lalu menyerang Kratos. Selain diserang bayi-bayi Manticore, Kratos juga disambut oleh Chimera setelah sampai di puncak Tower of Delphi.

Mountain of Delphi

Pemandangan Temple of Delphi dari puncak Tower

Kereta ular (Snake Train) yang mengandung sumber energi listrik

Pemandangan Temple of Delphi dapat terlihat dengan jelas dari puncak Tower, disanalah Kratos harus memasukinya dan bertemu dengan Oracle. Untuk memasukinya Kratos tidak perlu menuju kesana akan tapi Temple itu sendirilah yang akan mendekati Tower, karena Tower tersebut adalah kunci jalan masuk Temple. Untuk membuka kunci tersebut diperlukan energi listrik yang bersumber dari kereta ular yang sebelumnya sudah dinaiki oleh Kratos, sehingga ia hanya butuh melepaskan 2 kereta lagi. Akhirnya setelah ketiga kepala secara otomatis menancap pada tuas-tuas yang mengaliri energi pada Tower, maka Kratos hanya perlu menarik tuas terakhir secara manual. Sebelum Kratos mengaktifkan tuas terakhir, dia berpapasan dengan seorang pengelana dari Egypt/Mesir tepatnya dari Land of Pharaos yang sedang menuju ke Temple untuk bertemu dengan Oracle. Ini dapat diketahui setelah membaca jurnal-jurnal miliknya yang berjatuhan atau mungkin sengaja dijatuhkan selama perjalanan. Perbadingan suhu ekstrim yang sangat berbeda dari pada di Mesir membuatnya sangat kedinginan hingga ia terjatuh disusul jatuhnya beberapa apel dari keranjang yang dibawanya. Kratos nampak tidak peduli terhadapnya, bahkan dia tetap saja cuek setelah tiba-tiba Manticore berukuran besar datang menyerang orang tersebut. Manticore dewasa inilah yang bersarang di sepanjang perjalanan menuju Delphi terutama di area dalam kereta-kereta ular tersebut. Orang Mesir itu berteriak kesakitan dan meminta tolong, namun itu sudah terlambat setelah Manticore menyemburkan api ditubuhnya sambil mengkoyak-koyak. Belum selesai hewan buas itu memangsa, ia malah ingin berurusan dengan Kratos, maka pertempuran segera berlangsung.

Pengelana dari Mesir yang disebut-sebut sebagai The Seeker of Oracle
Related image
Manticore VS Kratos
Semua halangan akhirnya dapat dilewati dengan mudah termasuk Manticore sendiri akhirnya mati ditangan Kratos, namun itu belum berakhir. Penjagaan dalam Temple ternyata sama ketatnya dengan area luar atau mungkin lebih ketat, karena Kratos yang berhasil memasuki Temple of Delphi harus langsung berhadapan dengan Cerberus, tampaknya Hades juga memiliki tanggung jawab besar untuk tidak membiarkan sembarangan orang memasuki Temple dan Kratos bukanlah sembarangan orang sebagai bukti bahwa dia berhasil menaklukkan Cerberus. Di dalam Temple terdapat banyak perabotan yang sangat mewah serta mengandung nilai seni dan sejarah terutama pada hiasan dinding yang dipersembahkan kepada dewa Apollo untuk mengenang atas kemenangan dalam menjinakkan The Mighty Python sehingga keberadaan monster itu tidak lagi mengancam Oracle, karena jasa inilah dewa Apollo dipuja dan diberi penghargaan/gelar oleh pemujanya sebagai The Savior of Delphi. Lukisan-lukisan berukuran besar yang behubungan dengan Delphi juga di tempel di dinding, salah satu diantaranya adalah lukisan Aletheia the Oracle of Delphi, dia adalah kekasih Orkos yang mendapat gelar Oracle di masa ini.

Hiasan dinding untuk menghargai jasa Apollo the Savior of Delphi

Lukisan Aletheia the Oracle of Delphi

Kratos menyusuri seluruh ruangan dan bertemu dengan beberapa makhluk baru lainnya yang dikirim oleh para dewa selain Cerberus yaitu Siren Sybil, jenis Siren yang diberkati kekuatan listrik milik Zeus. Semakin dalam maka Kratos menemui jenis makhluk penjaga lainnya yang lebih kuat yaitu Fire Elemental Talos, patung berlapisi armor tebal dan bersenjata palu raksasa yang mengandung kekuatan api milik Ares ini akan aktif apabila mendeteksi pengunjung yang tidak dikenal, dan Wraith of Hades, jenis wraith terkuat yang diberkati kekuatan manipulasi roh milik Hades.

Kratos memasuki area yang lebih dalam dan disana terlihat seorang pria tua bernama Castor yang dengan bengis sedang memerintahkan budaknya untuk bekerja meski salah satu dari mereka mengatakan bahwa mereka butuh istirahat dan makan, namun dengan kejam Castor membunuhnya tanpa peduli dengan kondisi mereka. Dari peristiwa ini, terlihat bahwa Castor mempunyai kekuasaan yang besar di Temple of Delphi dengan bukti lain bahwa terdapat banyak Memorandum tentang aturan-aturan baru yang berhubungan dengan Oracle dan ini bukanlah adalah hal yang seharusnya terjadi, bahkan sejauh ini Sang Oracle belum muncul sama sekali. Kemudian setelah Castor selesai dengan urusannya, ia memasuki ruangan khusus yang disebut Oracle's Chamber, ruangan khusus bagi Oracle dan seharusnya disanalah Oracle berada.


Kratos mengikutinya menuju ruangan tersebut dan alhasil dia hanya disambut tidak menyenangkan oleh Castor sendiri, tak hanya itu bahkan dia hendak diusirnya karena tidak membawa persembahan apapun kepada Castor. Kratos yang masa bodoh dengannya terus berjalan melewatinya dengan acuh karena urusannya adalah bertemu dengan Oracle bukan dengan Castor. Hal ini membuat Castor membulatkan niatnya mengusir Kratos dengan memerintah budaknya, namun mereka malah ketakutan ketika melihat raut wajah dan aura mengerikan Kratos. Castor yang nampak tahu ini akan terjadi hanya menghela nafas lalu turun tangan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Dengan kekuatan Amulet of Uroborus, Castor membangunkan saudara kembar siamnya bernama Pollux yang sedang tertidur dan merubah tubuh mereka menjadi kembali muda. Castor-Pollux kemudian menghentikan langkah Kratos secara paksa dengan menghancurkan jalan menuju singgahsana Oracle, meskipun Kratos tetap bersikeras melewati dan melompati jalan yang terus berhamburan. Melewati rintangan semacam ini bukanlah hal yang sulit bagi Kratos, Blades of Chaos yang dilengkapi rantai miliknya sangat berperan penting untuk meraih bebatuan yang jauh dan mencegahnya jatuh. Hal ini membuat Castor-Pollux tidak punya pilihan lain selain membunuhnya. Singgahsana Oracle sudah dekat, Aletheia Sang Oracle terlihat sedang duduk lemas disana, kedua matanya buta dan tampak kehilangan bola mata dengan sebab yang masih belum diketahui. Castor-Pollux mengahancurkan seluruh sisa jalan menuju kesana lalu menghadang Kratos dan pertarungan mereka berdua akhirnya dimulai.

Castor-Pollux Old Mode

Castor-Pollux Young Mode

Castor-Pollux bertarung menggunakan tongkat kerajaannya yang dapat di pisahkan menjadi pedang dan gada (sejenis palu) yang dialiri kekuatan dari Amulet of Uroborus, inilah yang menjadikan dirinya sangat kuat. Terlebih lagi Castor tampak efisien menggunakan Amulet selain untuk menyerang secara fisik, yaitu dapat memakainya untuk teleportasi, memanipulasi waktu, menembakkan energi Uroborus, membuat aura pelindung, dan yang paling utama mampu merusak serta memulihkan objek. Pertarungan berlangsung dengan sengit, Pollux mendorong terus Castor agar segera menyelesaikannya tanpa harus bermain-main, namun mau bagaimana lagi Kratos memanglah prajurit yang kuat, apalagi tubuh mudanya yang dimanipulasi menggunakan kekuatan Amulet berangsur-angsur hilang dan pukulan yang bertubi-tubi Kratos membuat Castor sepenuhnya tak sadarkan diri. Kecewa dengan saudara kembarnya, Pollux yang satu tubuh dengan Castor mengambil alih pertarungan. Dia mampu menerbangkan dirinya dan menggunakan telekinesis untuk mengayunkan kedua senjatanya, tapi lebih sering menembakkan energi Uroborus dari jauh, mungkin inilah pertanda bahwa dia tak punya cara lain lagi untuk mengalahkan Kratos.

Meski begitu Pollux tidak menyerah begitu saja, dia memang tidak bisa menghentikan Kratos tapi bukan berarti tidak bisa membungkam mulut Aletheia. Dia menghancurkan singgahsana Aletheia, itulah cara paling mudah, maka robohlah Sang Oracle tersebut. Disisa tenaga yang ada, Pollux berencana melancarkan serangan terakhirnya menggunakan seluruh kekuatannya. Tentu saja Kratos tidak mungkin membiarkan itu terjadi, serangan combo milik Kratos mengaikhiri usahanya dan inilah saat-saat terakhir bagi Sang Gemini. Arena pertempuran tersebut mulai runtuh, Pollux masih berusaha menyerang lawan dengan membabibuta, begitu juga Kratos. Diakhir pertarungan, Kratos merobek tubuh Castor dan memisahkan tubuh siamnya secara paksa disusul dengan robohnya arena pertarungan. Pollux yang bersimbah darah karena tubuhnya terpisah dengan Castor masih berusaha untuk tetap bertahan hidup meski hanya bisa membela diri dengan kata-kata dan merangkak dengan lamban, meski begitu Kratos tidak akan membiarkan hidup seorangpun yang menghalangi jalannya lalu remuklah tulang belulang Pollux dikaki Sang Spartan.


Kratos mengambil hadiah kemenangannya dari Castor berupa Amulet of Uroborus. Benda keramat yang Castor curi dari Aletheia itu sangat berharga dan tidak hanya mampu memulihkan benda mati tapi juga menyembuhkan makhluk hidup. Sementara Aletheia yang tubuh sekaratnya tertimpa reruntuhan tampak masih bertahan hidup, untuk inilah Kratos segera menghampirinya. Dengan kekuatan Amulet of Uroborus, Kratos membuka jalan menuju reruntuhan. Dia pun juga hendak menyembuhkan luka-luka Aletheia, namun karena luka yang sangat parah dan nyawa Aletheia yang berada diujung tanduk maka hal itu tidak akan memberi effek apapun. Aletheia sudah meramal bahwa hal ini pasti akan terjadi, dia menunjukkan kebenaran akan peristiwa yang dialami Kratos yaitu kebenaran bahwa Lysandra sudah mati. Aletheia juga mengetahui bahwa pikiran Kratos sedang kacau, maka dari itu dia menunjukkan semua kebenarannya kenapa hal itu bisa terjadi. Dia mengatakan bahwa The Furies-lah penyebab semua itu terjadi, mereka akan terus menjangkit dan memanipulasi pikiran Kratos karena Kratos lari dari sumpahnya dengan Ares. Sementara apa yang dilakukan Orkos adalah murni kebenaran, meskipun dia adalah bagian dari The Furies namun kelak ia akan menunjukkan kebenarannya. Waktu yang dimiliki Sang Oracle tidak lagi panjang, jadi untuk mengatakan semuanya adalah hal yang sedikit mustahil. Kratos memegang tangan Sang Oracle di detik-detik terakhir kematiannya. Disisa tenaganya, Aletheia masih berusaha mengatakan apa yang harus Kratos lakukan, yaitu mengalahkan semua pemegang sumpahnya dengan Ares. Untuk mengalahkan mereka semua, Kratos harus menyeberangi lautan menuju Delos, disanalah kedua bola mata Oracle disimpan dan dibuat menjadi sebuah replika yang bernama The Eyes of Truth.

Kematian Sang Oracle memberikan jalan baru bagi Kratos menuju kebebasan. Dia kembali menuju Desa Kirra melalui Passage of Delphi, lalu menuju Pelabuhan (The Harbour of Kirra). Untuk mencapainya Kratos harus memperbaiki kincir air agar bisa menuju kesana dengan jalur yang lebih cepat yaitu melalui gua bawah tanah (The Grotto), namun disana dijaga oleh 2 Ice Elemental Talos yang diberkati kekuatan es dari Poseidon sehingga Kratos harus mengalahkan mereka.


Sesampai dipelabuhan, Kratos bertemu dengan Orkos. Kratos yang mulai mempercayainya bertanya tentang urusannya mengkhianati The Furies. Orkos mengatakan bahwa ini karena keberadaan Kratos itu sendiri, ketidakadilan dan keistimewaan sumpah Kratos membuatnya ragu dengan sikap kedua orang tuanya. Kemudian Orkos menjelaskannya tentang alasan dia dilahirkan, dimulai dari Ares Sang Dewa Perang yang berharap memiliki seorang pejuang yang sempurna, maka dari itu Ares membuat hubungan dengan Alecto Sang Ratu Fury. Awalnya Ares berpikir bahwa hubungan silang dari seorang Dewa dengan Fury akan menghasilkan keturunan yang kuat, akan tetapi dia salah, Orkos bukanlah anak yang diharapkan melainkan hanyalah anak yang mengecewakan. Ares membuangnya dan bahkan tidak menganggapnya sebagai anak, sementara Alecto mengampuninya, dia dianggap sebagai salah satu Fury dan memberi tugas untuk menjadi Oath Keeper. Walaupun ini adalah tugas berat yang harus dipikul, tetapi Orkos tetap memikulnya demi mereka yang mencintainnya. Dari informasi yang didapat dari kekasihnya yaitu Aletheia Sang Oracle, mengungkapkan bahwa rencana Ares dalam menciptakan seorang pejuang yang sempurna adalah untuk menggulingkan kepemimpinan Zeus. Ares kini telah menemukan pejuangnya dan ia sedang membentuknya untuk menghancurkan tahta Olympus.

Untuk membentuknya menjadi pejuang yang setia untuk selamanya, Ares dan Alecto merancang 3 Blood Task :
Pertama, tumpahkan darah musuh-musuhmu,
Kedua, tumpahkan darah mereka yang tak bersalah,
Ketiga, tumpahkan darah orang-orang terkasihmu.

Dengan ketiga rancangan tersebut, maka Sang Pejuang akan menjadi mesin pembunuh yang tak terkalahkan, dan Sang Pejuang yang dimaksud adalah Kratos. Belum selesai Orkos berbicara, Kratos membentaknya dan mengatakan bahwa masa lalu itu akan dia hentikan sendiri tanpa bantuan seorang Fury. Orkos yang mendengar kata-kata yang dilontarkannya merasa dirinya terusir lalu pergi meninggalkannya, sementara kapal yang ditumpanginya diseret keluar gua menuju lautan lepas oleh seorang raksasa jinak yang ditangkap dari The Blood Thirsty Isle of the Laestrygonians.

Inilah peristiwa yang dialami 3 minggu sebelumnya, dengan begini Kratos akhirnya sudah membulatkan tekadnya, yang perlu ia lakukan hanyalah melawan The Furies yang tersisa, yaitu Tisiphone dan Alecto.

Akhir Cerita God of War : Ascension (Seek the Oracle at Delphi)


Reading Time:

Jumat, 05 Januari 2018

  Alur Cerita Lengkap God of War : Ascension (Prologue)
18:171 Comments

Berdasarkan kronologi cerita, God of War : Ascension bersetting 10 tahun sebelum peristiwa di cerita utama God of War dan 6 bulan setelah Kratos tidak sengaja membunuh istri dan anaknya kemudian dijebloskan ke penjara hidup Aeagaeon the Hecatonchires oleh The Furies karena pembangkangan terhadap Ares. Berikut ini adalah artikel tentang rangkuman cerita lengkapnya dari game tersebut dan mengandung banyak SPOILER, sehingga disarankan agar memainkan gamenya terlebih dulu jika tidak ingin terjebak banyaknya bocoran cerita.

Baca artikel sebelumnya... Cerita God of War : Ascension (Rise of the Warrior)

God of War: Ascension Main Menu

Game dibuka dengan sejarah kekacauan masa-masa sebelum zaman Titan dan zaman berjayanya Dewa Olympus, lebih tepatnya ketika perang perebutan kekuasaan antara dewa-dewa besar yang mana secara astronomi dikenal sebagai Primordials, kegilaan dan kemarahan perang terjadi untuk selamanya, sehingga dari peristiwa ini terbentuklah tiga penjaga kehormatan, The Furies. Mereka adalah Megaera, Tisiphone, dan Alecto yang ditugaskan untuk menuntut balasan terhadap para pelanggar sumpah. Para Fury tidak terikat dengan siapapun, dikarenakan mereka adalah pelindung kehormatan, pelaksana hukuman, dan penghukum penghianat.

Era terus berganti sejak zaman Primordials, tahta mereka diambil alih oleh keturunan pertama yaitu para Titans, lalu zaman Titan berakhir dengan dijatuhkan oleh keturunan berikutnya yaitu dewa-dewa Olympus melalui peristiwa peperangan besar yang disebut Titanomachy 1. Ketika Zeus bersama saudara-saudara dewa Olympus lainnya akhirnya berkuasa atas dunia, mereka juga tinggal berdampingan dengan The Furies namun mereka bukan ancaman dikarenakan para Fury hanya menindak mereka yang dianggap bersalah. Sementara para Titan yang kalah dalam perang besar ditugaskan untuk menopang keseimbangan dunia, beberapa yang lainnya dijebloskan dalam penjara yang sangat dalam bernama Tartarus dan diikat kuat dengan rantai-rantai yang besar.

Namun ada satu keturunan unik diantara Titan-titan lainnya, dia adalah Aegaeon Si Ratusan Tangan (the Hecatonchires). Dia salah satu dari 3 Hecatonchires bersaudara dan satu-satunya diantara para Titan yang dibebaskan setelah ia bersumpah darah dengan Zeus, akan tetapi ini juga menjadi awal dari pelanggaran sumpah untuk yang pertama kalinya terhadap dewa. Untuk alasan inilah The Furies bertindak. Mereka tak henti memburu Sang Hecatonchires, mengatur rencana penangkapan, dan menyiksanya tanpa ampun, karena The Furies percaya bahwa kematian akan terlalu baik bagi pelanggar sumpah kepada raja para dewa. Tubuh Aegaeon the Hecatonchires diubah menjadi penjara batu kelak bernama Prison of Damned, penjara yang dikhususkan untuk semua orang yang berani mengikuti teladannya di masa depan, menjadi contoh untuk semuanya, dan sebagai simbol istimewa kepada mereka yang berpikir untuk melanggar sumpah darah dengan para dewa. 


Salah satu diantara mereka yang melanggar sumpah darah dengan dewa adalah Kratos Sang Jendral Sparta. Dia akhirnya tertangkap oleh The Furies, lalu menyiksanya dengan sangat kejam hingga Kratos berharap tidak menginginkan pengalaman terburuk ini terjadi lagi. Penyiksaan yang tak mengenal lelah ini membuat Kratos tak sadarkan diri.

Setelah siuman, Kratos didatangi lagi oleh salah satu Fury yaitu Megaera. Nampaknya dia masih haus akan balas dendam terhadap Kratos yang membuatnya kehilangan tangan kanannya. Amarah yang meluap-luap membuatnya ingin menyiksa Kratos sepanjang hidupnya, hingga tak sadar bahwa pukulan kerasnya sampai melepaskan borgol yang mengikat kuat di leher Kratos. Akibat kecerobohan Megaera, Kratos menjadi leluasa bergerak meski kedua tangannya masih terantai, namun dengan ini dia dapat memanfaatkan kesempatan untuk meloloskan diri. Dengan memanfaatkan serangan Megaera yang sudah terbaca, Kratos berhasil melepaskan rantai di tangan kanannya diikuti dengan menarik paksa Blades of Chaos miliknya lalu mengayunkan kearah perut Megaera sehingga menghasilkan luka yang cukup kacau. Pada akhirnya Kratos berhasil meloloskan diri dari rantai yang mengikatnya dan mengambil udara bebas. Tujuannya sekarang adalah mengejar Megaera dan merebut kembali barang miliknya yang telah didapatnya yaitu Amulet of Uroborus.

Megaera yang terluka parah di perut tidak punya pilihan lain selain lari menjauh dari Kratos yang penuh emosi sembari memanggil puluhan sampai ratusan Parasyte dari dalam tubuhnya dan menurunkan semangat Kratos dengan mencemoohnya, meskipun itu sia-sia. Selain itu, Megaera tak hanya memanggil Parasyte-nya untuk bertarung namun juga untuk menginfeksi organisme di sekitar penjara raksasa tersebut diantaranya tahanan manusia, anjing liar, bahkan sampai tangan Aegaeon sendiri yang membuatnya bermutasi menjadi monster penghancur yang mematikan.

Infected Hands of Aegaeon 1st Mode

Infected Hands of Aegaeon 2nd Mode

Rintangan demi rintangan musuh dilalui Kratos termasuk Cyclops Berserker, menelusuri seluruh penjara raksasa yang sangat luas tersebut, melihat pemandangan dan suasana di penjara, hingga menemukan 3 catatan mengenai The Furies dan bertemu secara singkat dengan Redeemed Warrior yang ketika itu melakukan teleportasi atas bantuan dewa menuju tempat lain kemungkinan menggunakan Hyperion Gate menuju Rotunda of Olympus (NB : berlanjut sebagai custom character versi Multiplayer) untuk melakukan penebusan dosa. Selain itu selama pengejaran, Kratos juga menemukan lukisan dinding (mural) tentang proses pembangunan Prison of Damned menggunakan daging dan tulang Aegaeon untuk membuat dinding yang menggelapi seisi penjara.

Area dalam Prison of Damned

Lukisan Dinding (Mural) tentang proses pembangunan Prison of Damned

Di pertarungan terakhir Megaera menggunakan Parasyte-nya untuk menginfeksi kepala Aegaeon melalui bagian katung mata, dengan bagitu bermutasilah kepala Aegaeon tersebut terutama bagian mulutnya yang siap melahap Kratos. Namun bagaimanapun juga, pertarungan sengit tersebut berakhir setelah Kratos menancapkan pedangnya tepat pada area vital Megaera yaitu bagian dadanya yang merupakan sarang dan jalan keluar-masuk Parasyte.

Kepala Aegaeon the Hecatonchires versi Mutan


Baca selanjutnya... God of War : Ascension (Seek the Oracle at Delphi)


BONUS CONTENT :



Pada bagian ini saya akan perjelaskan scene dimana situasi Reedemed Warrior setelah pertemuan singkat dengan Kratos saat pertarungannya dengan Megaera. Scene ini hanya terdapat pada versi multiplayer, dimana memperlihatkan situasi Prajurit Tanpa Nama ini berusaha melepaskan borgolnya dari sudut pandangnya lalu Kratos tidak sengaja menjebol ruangannya dan berbanggalah Sang Prajurit tersebut. Dengan bantuan dewa, dia melakukan Teleportasi menggunakan Hyperion Gate menuju tempat yang agung bernama Rotunda of Olympus. Disini Prajurit tersebut diijinkan untuk melakukan aliansi sebagai Pejuang Dewa (Champion of God) dengan salah satu dewa yang dipilihnya, yaitu Ares, Hades, Zeus, atau Poseidon. Permainan multiplayer akan dimulai setelah memilih dewa yang diinginkan.
Reading Time: